Orasi Ilmiah Gubes ITB Irda Fidrianny & Mubiar Purwasasmita – Terobosan SDA Indonesia, Apa Kabar?

GURU BESAR 1 CopydestinasiaNews – Katakanlah ini “duo guru besar ITB”, sepertinya mereka ini kompak mengingatkan kita – betapa sumber daya alam (SDA) kita sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Tinggal sumber daya manusia (SDM) kita, berhasratkah mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih?

“Inilah ikhsitar pemaparan dari keduanya yang ilmunya memang mumpuni dan aplikatif”, seru Effendy (48) dosen Perguruan Tinggi Negeri. Effendy adalah salah satu dari ratusan akademisi, para tokoh, dan praktisi lingkungan yang menyimak cermat sejak awal hingga penutupan orasi ilmiah di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB Jl. Surapati No. 1 Bandung (24/2/2017).

”Tanaman berinteraksi kuat dengan lingkungan hidup di sekitarnya, demi mendapatkan pasokan makanannya. Bagian lingkungan yang berinteraksi kuat itu secara sistemik diakuisisi menjadi bagian dirinya yang disebut bioreaktor tanaman. Tak lain sebagai bagian dari tanaman untuk menyiapkan pasokan nutrisi yang diperlukannya”, papar Prof. Mubiar Purwasasmita (66), asal Sumedang Jawa Barat yang menjadi staf pengajar Fak. Teknik Industri ITB sejak 1978.

Mubiar yang dikenal di antaranya sejak 2001 sebagai aktivis lingkungan serta Ketua DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) yang dibiduki bersama dengan sesepuh Jawa Barat Solihin GP (91) mantan Gubernur Jabar (1970 – 1974), dan Eka Santosa mantan Ketua DPRD Jabar (1999 – 2004), secara meyakinkan – Bertani berbasis konsepsi bioreaktor tanaman kembangkan dan terapkan sebagai bagian action research di Indonesia, awali-lah dengan program tani hemat air.

Tak tanggung-tanggung Mubiar menguji teorinya di lapangan selama bertahun-tahun. Ia wujudkan dalam program CSR-CD PT Medco Energy yang diketahui kental diawaki pebisnis nasional Arifin Panigoro (72).

Implementasinya, yang terungkap dari orasi ilmiah Mubiar berjudul Transport Phenomena: Dari Model Reaktor Gas Cair Hingga Bioreaktor Tanaman,  di seluruh Indonesia kini ada 16.440 hektar sawah dan 42.279 petani terlatih telah menerapkan teknologi ini yang diinisiasi sebagai SRI Organik Indonesia. “Metoda tani organik system of rice intensification (SRI), semula di Madagaskar lalu dikembangkan di dalam negeri dengan konsepsi bioreaktor tanaman”, papar peraih Diplome de Doctorate du Genie Chimique dari Institut Nationale Polytechnique de ENSIC/INPL Nancy, Prancis (21/01/1985).

Inilah- itulah …

Salah satu hasilnya, pada kurun waktu 2001 -2016 upaya swadaya masyarakat yang dikawal beberapa LSM dan para tokoh masyarakat, mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi di lapangan. Contohnya – produktivitas dari 2 – 4 ton/hektar menjadi 9 – 12 ton/hektar secara terus menerus selama 26 musim. Ini hanya memakai bahan setempat, tanpa pupuk dan bahan kimia apa pun!

“Harapannya, bisa berproduksi 15 ton/hektar”, terang Mubiar sambil menunjukkan pameran produknya yang diapresiasi para hadirin di salah satu satu sudut gedung  BPI ITB – “Metoda ini bisa diterapkan untuk tanaman selain padi seperti sayuran, singkong, tanaman keras buah-buahan, karet, dan kelapa awit. Nanti, bisa menaikkan produksi hingga 3 – 4 kali”. 

Menurut Arifin Panigoro yang hadir secara khusus bersama Solihin GP dan Eka Santosa, selaku Ketua Umum Gerakan Hejo:”Teori Pak Mubiar yang dilakukan secara tekun dan saintifik, benar adanya. Bisa diaplikasikan, sudah saya terapkan di Merauke Papua, dan Sumatera Selatan. Negara butuh terobosan agrikultur seperti ini”

GURU BESAR 2 Copy“Sayang, terkadang pemerintah dan pemerintah yang mana ya? Tak begitu serius menerapkan SRI!” jelas Arifin Panigoro kala ditanya, apakah temuan Mubiar ini telah diapresiasi pemerintah? “Wah, ada macam-macam kendala di pemerintahan, salah satunya soal pupuk buatan, ini kan menyangkut industri pupuk?! Di sini banyak yang bermain …”, ujarnya tanpa menjelaskan jawaban lebih rinci.

Lebih khusus ditanyakan, penerapan SRI di Jawa Barat, bagaimana? “Wah, ini apalagi, serba inilah… serba itulah… tuh Mang Ihin tahu persis kendalanya…”, papar Arifin Panigoro sambil menunjuk seniornya Solihin GP dan sesama rekannya Eka Santosa. Keduanya, hanya bisa mesem-mesem penuh arti, menanggapi dialog ini.

 Obat Bahan Alam

Sebelum Mubiar memaparkan orasi ilmiahnya, ada guru besar  ITB lainnya, Prof. Irda Fidrianny (54), dari Sekolah Farmasi ITB dari kelompok keilmuan Biologi Farmasi, dengan bidang keahlian Fitokimia atau Standarisasi Bahan Alam. Kebanggaannya, Ia merupakan anak pertama dari Wali Kota Pekanbaru (1981 – 1986), Ibrahim Arsyad. Pun, satu-satunya perempuan Riau bergelar professor di perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. 

Irda yang bersuamikan Syamsul Bahri, SH dengan berputrakan Luthan Riandy/Nurani Fitri Kireina, dan Ivan Hadyan, hari itu memaparkan orasi ilmiahnya berjudul: Peran Standarisasi dalam Konsisitensi Mutu, Keamanan dan Efek Obat Bahan Alam. 

Rujukannya dalam bidang farmasi 90 – 96% bahan alam yang digunakan berasal dari tumbuhan. Obat bahan alam Indonesia adalah obat bahan alam yang diproduksi di Indonesia. Keputusan BPOM – Badan pengawas Obat dan Makanan, ada 3 kelompok: jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka.

“Diketahui khasiat jamu berdasarkan penggunaan empiris di masyarakat. Klaim OHT berdasarkan hasil pre uji klinis, sedangkan fitofarmaka berdasarkan hasil uji klinis.”Idealnya, baik OHT maupun fitofarmaka menggunakan bahan baku yang berstandar”, papar Irda yang menjelaskan secara rinci hasil kajiannya tentang sumber bahan baku obat bahan alam sejatinya terklasifikasi dua yakni tumbuhan liar dan tumbuhan budidaya.

Ringkasnya, Irda yang bertahun-tahun menggeluti aneka bahan baku obat bahan alam, memandang perlu:”Standarisasi itu demi menjamin konsistensi mutu, keamanan dan efek obat bahan alam tersebut”.

Lebih jauh menurutnya, standarisasi ini tidak hanya terhadap bahan baku, melainkan terhadap proses. “Melalui bahan baku yang terstandar, proses yang terstandar, akan pula diperoleh produk yang terstandar”.

Secara gamblang, Irda paparkan bagaimana melakukan treatment standar untuk tumbuhan sumber bahan baku obat, mulai tumbuhan liar seperti tempuyung (Sonchus arvensis L) dan ki rinyuh (Eupatorium inulifolium Kunth). Dan untuk tumbuhan budidaya, Ia contohkan pada buah naga (Hylocereus sp) dan pisang (Musa sp).

Antioksidan & Radikal Bebas

Populernya, dewasa ini dalam khazanah dunia obat sering muncul istilah antioksidan dan radikal bebas. Antioksidan sederhananya suatu senyawa atau sekelompok senyawa sampel yang dapat mencegah terbentuknya radikal bebas (antioksidan primer).

Sebagian penutupnya oleh Irda dipaparkan bahwa bahan baku obat bahan alam akan berpengaruh terhadap mutu, efek dan keamanannya. Karenanya, sangat diperlukan proses standarisasi  demi menjamin konsistensi mutu, keamanan, dan efek obat bahan alam.

Tiga rencana ke depan yang dirasakan penting menurut Irda, di antaranya -Peningkatan kapasistas laboratorium standarisasi, demi pengkatan kerjasama dengan industry obat. Melakukan penelitian lanjutan tentang anti oksidan yang berkenaan perbedaan varietas, kultivar, marga, bagian tumbuhan, dan pebedaan tempat tumbuh. “Terakhir, lakukanlah penelitian tentang antioksidan yang berkaitan dengan perbedaan metode ekstrasi, perbedaan pelarut ekstrasi, dan perbedaan proses produksi produk”.

Paparan dari duo guru besar ITB, dimata Agus Warsito yang sehari-hari bergiat di Gerakan Hejo selaku Sekertaris Jenderal:”Ada korelasi nyata, kekayaan alam Indonesia makin disadari punya manfaat tak terkira. Dua guru besar ini, mengupas potensi SDA dan SDM, yang selama ini tidur. Maka, perlu kita bangunkan, biar meningkatkan nilai tambah”, paparnya sembari bertanya – “Trobosan lain dari para peneliti kita yang bisa diaplikasikan, demi ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan, hallo apa kabar?”.(HS/IS/dtn)


emgz2

Artikel lain...

Petualangan anak Rumah Bermain Jejak Kecil di Indo Wisata Permata

Petualangan anak Rumah Bermain Jejak Kecil di Indo Wisata Permata

destinasianews - Rumah bermain jejak kecil yang beralamat di Jl Bukit Dago Utara I No. 13 kini berpetualang bersama anak...

Sidang PKPU Koperasi CSI di Pengadilan Niaga Jakpus- Permohonan Forkoma CSI Dikabulkan

Sidang PKPU Koperasi CSI di Pengadilan Niaga Jakpus- Permohonan Forkoma CSI Dikabulkan

destinasiaNews – Babak baru perjuangan ratusan anggota Forkoma (Forum Komunikasi Anggota) CSI (Cakrabuana Sukses Indonesia), dalam kaitan perkara yang dikenal...

Warung Kopi Alas di Alam Santosa – Ada Varietas Katimor Hasil Tanam Sendiri

Warung Kopi Alas di Alam Santosa – Ada Varietas Katimor Hasil Tanam Sendiri

destinasiaNews – Berdiri sejak pertengahan Februari 2017, ini warung kopi spesial. Namanya Kopi Alas, katanya singkatan dari Alam Santosa –...

Eka Santosa di Rakor F-DAS Citarum – Minta Presiden Tangani Langsung Sungai Terkotor Sedunia

Eka Santosa di Rakor F-DAS Citarum – Minta Presiden Tangani Langsung Sungai Terkotor Sedunia

destinasiaNews – Rapat Koordinasi (Rakor) Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum yang berlangsung di Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa...

Sebanyak 25 Anggota Menwa Batalyon XI/UPI Ikuti Kursus Dinas Staff

Sebanyak 25 Anggota Menwa Batalyon XI/UPI Ikuti Kursus Dinas Staff

  DestinasiaNews, Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI/Universitas Pendidikan Indonesia (Menwa Yon XI/UPI) menyelenggarakan Kursus Dinas Staff (KDS) angkatan 45 yang...

Pengunjung

01384827
Hari ini
Kemarin
70
1222